0274-3042220
0819 1555 0847 | 0812 2794 4404

Buka Praktek
06.00 - 21.00

(Spesialis Sewa Mobil dan Motor)

Menguak Asal Nama Daerah/Kampung di Yogyakarta

Yogyakarta sebagai salah satu daerah istimewa memiliki latar belakang sejarah yang mengagumkan, baik dari andilnya melawan penjajah, berdirinya sebuah kerajaan Islam, sampai perjuangannya merebut kemerdekaan. Ada banyak hal yang menarik di Kota Yogyakarta ini, salah satunya adalah penamaan jalan atau daerah atau kampung berdasarkan sejarah tempat tersebut, yang biasa disebut dengan toponim. 

Setiap daerah memiliki sejarahnya masing-masing, memiliki keunikan nama tempat masing-masing, begitu juga dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Yogyakarta penamaan jalan atau daerah atau kampung adalah berdasarkan profesi para penduduk kampung pada jaman dahulu. 


Kampung di wilayah Jeron Beteng umumnya dinamai berdasarkan keahlian abdi dalemnya atau mengikuti pola atau fungsi-fungsi yang diperankan masing-masing kelompok masyarakat dalam kehidupan keraton. Di Jeron Beteng ada kampung Mantrigawen, Gamelan, Namburan, Siliran, Nagan dan Patehan.


Prajurit Patangpuluh
Foto diambil dari Kaskus

Menuju kawasan Jobo Beteng, ada beberapa daerah yang didiami oleh pengurus dan prajurit istana. Beberapa kampung Jobo Beteng tersebut antara lain Jogokaryan, Bugisan, Dhaengan, Ketanggungan, Mantrijeron, Nyutran, Patangpuluhan, Prawirotaman, Surakarsan, Wirobrajan.
Melalui tulisan kali ini, tim redaksi Jogja Empat Roda akan mengajak para pembaca untuk menyelami lebih jauh sejarah penamaan kampung-kampung atau wilayah yang berada di Kota Yogyakarta.



Daerah Jeron Beteng
  1. Kampung Kemitbumen adalah pemukiman para abdi dalem pembersih kraton.
  2. Kampung Siliran adalah pemukiman para abdi dalem pengurus penerangan kraton.
  3. Kampung Gamelan adalah pemukiman para abdi dalem pengurus kuda kraton.
  4. Kampung Pesidenan adalah pemukiman para abdi dalem yang menjadi pesinden atau wiraswara.
  5. Kampung Patehan adalah pemukiman para abdi dalem yang bertugas menyediakan minuman di kraton.
  6. Kampung Nagan adalah pemukiman para abdi dalem yang bertugas sebagai penabuh gamelan Jawa.
  7. Kampung Suranatan adalah pemukiman para abdi dalem yang mengurus masalah keagamaan. 
  8. Kampung Mantrigawen adalah pemukiman para abdi dalem yang bertugas sebagai kepala pegawai.
  9. Kampung Namburan adalah pemukiman para abdi dalem yang bertugas membunyikan gamelan.

Daerah Jobo Beteng
Daerah Jobo Beteng dibagi menjadi beberapa daerah yang didiami oleh pengurus dan prajurit kraton Jogja. Kampung-kampung yang dulunya sebagai tempat tinggal atau pemukiman prajurit kraton Jogja, antara lain:
  1. Jogokaryan
    Jogokaryan berasal dari bahasa Sanskerta yakni kata jogo berarti menjaga dan karya berarti tugas atau pekerjaan. Jadi bisa diartikan sebagai pasukan yang mengemban tugas untuk selalu menjaga dan mengamankan jalannya pelaksanaan pemerintahan dalam kerajaan.
    Panji-panji/bendera prajurit Jogokaryo adalah Papasan, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar merah, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna hijau. Secara filosofis papasan bermakna pasukan pemberani yang dapat menghancurkan musuh dengan semangat yang teguh.
    Kampung Jogokaryan berada di sisi selatan Keraton Yogyakarta. Kampung Jogokaryan memiliki acara tahunan pada bulan Ramadhan yang menjadi salah satu agenda wisata religius di DIY, yaitu Kampung Ramadhan Jogokaryan.
  2. Bugisan
    Dinamakan Kampung Bugisan karena jaman dahulu wilayah ini banyak ditempati anggota prajurit dari kesatuan Bugis. Pada masa sebelum Hamengku Buwono IX, Prajurit Bugis bertugas di Kepatihan sebagai pengawal Pepatih Dalem. Kemudian semenjak Hamengku Buwono IX naik tahta, Prajurit Bugis ditarik menjadi satu dengan prajurit kraton, dan dalam upacara Garebeg biasa bertugas sebagai pengawal gunungan.
    Panji-panji prajurit Bugis adalah Wulan-dadari, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna kuning emas. Panji-panji tersebut memiliki arti bahwa pasukan bugis diharapkan selalu memberikan penerangan dalam kegelapan.
  3. Dhaengan
    Dhaengan berasal dari kata Dhaeng (bahasa Makasar) sebagai sebutan gelar bangsawan di Makasar. Menurut sejarah, prajurit Dhaeng adalah prajurit yang didatangkan oleh Belanda guna memperkuat bala tentara RM. Said (Pangeran Mangkunegara). Kemudian terjadi perselisihan antara RM. Said dan Pangeran Mangkubumi, yang semula kedua tokoh tersebut bersekutu melawan Belanda. Puncak atas perselisihan itu adalah perceraian RM. Said. Istri RM. Said adalah putri Hamengku Buwono I dan pada saat memulangkan istrinya, RM. Said khawatir jika nanti Hamengku Buwono I marah. Guna menjaga hal yang tidak diinginkan tersebut, Kanjeng Ratu Bendara dikawal oleh prajurit pilihan, yakni prajurit Dhaeng. Setelah sampai di Kraton Yogyakarta, justru Prajurit Dhaeng disambut dengan sangat baik dan tangan terbuka. Atas keramahtamahan Hamengku Buwono I itu prajurit Dhaeng kemudian tidak mau pulang ke Surakarta dan kemudian mengabdi dengan setia kepada Hamengku Buwono I.
    Panji-panji/bendera Prajurit Dhaeng adalah Bahningsari (bahasa Sanskerta), berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar putih, di tengahnya adalah bintang segi delapan berwarna merah. Secara filosofis Bahningsari bermakna pasukan pantang menyerah.
  4. Ketanggungan
    Nama Ketanggung berasal kata dasar "tanggung" yang bermakna pasukan dengan tanggung jawab yang sangat berat. Panji-panji/bendera Prajurit Ketanggung adalah Cakra-swandana, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah gambar bintang bersegi enam dengan warna putih. Cakra-swandana berasal dari bahasa Sansekerta yakni cakra yang berarti senjata berbentuk roda bergerigi dan kata swandana yang berarti kendaraan/kereta. Secara filosofis Ketanggung bermakna pasukan yang membawa senjata cakra yang dahsyat yang akan membuat porak poranda musuh.
  5. Mantrijeron
    Nama Mantrijero berasal dari bahasa Sanskerta yakni mantri yang berarti juru bicara, menteri atau jabatan diatas bupati dan jero berarti dalam. Secara harfiah kata Mantrijero berarti 'juru bicara atau menteri di dalam' Secara filosofis Mantrijero bermakna pasukan yang mempunyai wewenang ikut ambil bagian dalam memutuskan segala sesuatu hal dalam lingkungan Kraton (pemutus perkara).
    Panji-panji/bendera prajurit Mantrijero adalah Purnamasidhi, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna putih. Purnamasidhi berasal dari kata Sansekerta, yaitu purnamaberarti bulan penuh dan kata siddhi yang berarti sempurna.
    Saat ini nama prajurit Mantrijero menjadi wilayah kecamatan Mantrijeron di bawah wilayah administrasi Pemerintahan Kota Yogyakarta.
  6. Nyutran
    Nama Nyutra berasal kata dasar sutra. Prajurit Nyutra merupakan prajurit pengawal pribadi Sri Sultan. Secara filosofis Nyutra bermakna pasukan yang halus seperti halusnya sutera yang menjaga mendampingi keamanan raja, tetapi mempunyai ketajaman rasa dan ketrampilan yang unggul. Itulah sebabnya prajurit Nyutra ini mempunyai persenjataan yang lengkap (tombak, towok dan tameng, senapan serta panah/jemparing). Sebelum masa Hamengku Buwono IX, anggota Prajurit Nyutra diwajibkan harus bisa menari.
    Panji-panji/bendera Prajurit Nyutra adalah Podhang Ngingsep Sari untuk Prajurit Nyutra Merah dan Padma Sri Kresna untuk Prajurit Nyutra Hitam.
    Kampung Nyutran sekarang berdiri sebuah Museum Kirti Griya, rumah dari Ki Hadjar Dewantara yang menjadi saksi perjuangan beliau melalui jalur pendidikan, lokasi kampung ini berada di Jalan Tamansiswa Yogyakarta.
  7. Patangpuluhan
    Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Patangpuluh adalah Cakragora, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah bintang segi enam berwarna merah. Cakragora berasal dari bahasa Sansekerta yakni cakra berarti senjata berbentuk roda bergerigi dan gora yang berarti dahsyat, menakutkan. Jadi Cakragora bisa diartikan pasukan yang memiliki kemampuan atau kekuatan unggul, sehingga segala musuh seperti apa pun akan bisa terkalahkan.
    Pakaian khas yang dikenankan sikepan lurik patangpuluh, kain panjang putih, celana pendek berwarna merah di luar celana panjang dengan rompi berwarna merah. Sepatunya lars hitam dan tanpa ketinggalan topi songkok berwarna merah dan hitam. Dengan persenjataan senjata api dan tombak, bergodo ini dwajanya berasal dari Kanjeng Kyai Trisula dengan membawa instrument tambur, suling dan trompet dengan lagu mars bulu-bulu dan gendera.
  8. Prawirotaman
    Prawirotaman berasal dari kata prawira (bahasa kawi) yang berarti perwira atau prajurit dan tama (bahasa sanskerta) yang berarti utama. Prawirotaman bisa diartikan pasukan yang pemberani dan pandai dalam setiap tindakan, selalu bijak walau dalam suasana perang.
    Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Prawiratama adalah Geniroga, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna merah. Pakaian khasnya berupa sikepan hitam dengan celana panjang putih, celana pendek di luar warna merah, sepatu lars hitamdan topi yang berbentuk kerang. Bergodo Pawirotama ini membawakan lagu Pandeburg dan Mars Balang.
    Kawasan ini dikenal sebagai daerah kampung bule dimana di sini terdapat banyak hotel serta motel dan galeri yang banyak disinggahi wisatawan mancanegara dari berbagai negara di dunia.
  9. Surokarsan
    Nama Surokarsan berasal dari bahasa Sanskerta yakni kata sura berarti berani dan dan karsa berarti kehendak. Dahulu Prajurit Surakarsa bertugas sebagai pengawal Pangeran Adipati Anom danbukan bagian dari kesatuan prajurit kraton. Sejak masa Hamengku Buwono IX, pasukan ini dijadikan satu dengan prajurit kraton dan dalam upacara Garebeg mendapat tugas mengawal Gunungan.
    Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Surakarsa adalah Pareanom, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hijau, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna kuning. Pareanom bermakna pasukan yang selalu bersemangat dengan jiwa muda.
    Di wilayah ini terdapat banyak bangunan peninggalan Belanda serta menjadi salah satu Kampung tua di Yogyakarta yang bersebelah langsung dengan Kali Code.
  10. Wirobrajan
    Wirobrajan berasal dari bahasa Sanskerta yakni kata wira berarti berani dan braja berarti tajam. Wirabraja bisa diartikan suatu prajurit yang sangat berani dalam melawan musuh dan tajam serta peka panca inderanya.
    Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Wirabraja adalah Gula Klapa, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar putih, pada setiap sudut dihias dengan centhung berwarna merah seperti ujung cabai merah (kuku Bima). Di tengahnya adalah segi empat berwarna merah dengan pada bagian tengahnya adalah segi delapan berwarna putih.
    Yang dimaksud Gula Klapa di sini adalah gula Jawa yang terbuat dari nira pohon kelapa yang berwarna merah; sedangkan 'kelapa' berwarna putih. Secara filosofis bermakna pasukan yang berani membela kesucian/kebenaran.
Sedangkan untuk kampung-kampung daerah Jobo Beteng yang dulunya dihuni oleh pengurus kraton, antara lain:
  1. Kampung Pajeksan adalah kediaman para jaksa
  2. Kampung Gandekan adalah kediaman para pesuruh
  3. Kampung Dagen adalah kediaman para tukang kayu
  4. Kampung Jlagran adalah kediaman para tukang batu
  5. Kampung Gowongan adalah kediaman para ahli bangunan
  6. Kampung Menduran adalah kediaman orang-orang Madura
Anda bisa mengunjungi semua daerah tersebut sekaligus napak tilas sejarah masa lampau. Apabila menghendaki untuk menjelajahi tempat-tempat tersebut, Anda bisa menggunakan jasa sewa/rental mobil atau sewa motor dari JOGJA EMPAT RODA.

Semoga sedikit ulasan mengenai toponim daerah di Yogyakarta ini mengurangi rasa penasaran dan menambah informasi serta referensi untuk tujuan wisata yang Anda inginkan.

About the Author

Jogja Empat Roda

Author

JOGJA EMPAT RODA adalah perusahaan sewa/rental mobil Jogja murah yang berizin resmi. Kami melayani jasa rental mobil Jogja lepas kunci, dengan sopir atau all in. Telp/SMS/WA: 0819 1555 0847

0 comments:

Posting Komentar


 

Copyright © Rental Mobil Jogja JOGJA EMPAT RODA. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com